Jumat, 12 Desember 2008

Jalan untuk Kembali


Ada begitu banyak anak-anak di Afghanistan, tapi hanya secuil masa kanak-kanak di sana.

Khaled Hosseini

Jalur sutra melintasi Afghanistan dan Provinsi Bamiyan merupakan “jembatan” yang menghubungkan pusat-pusat kebudayaan serta perdagangan jagatraya: Cina, India, dan Kekaisaran Romawi. Sejak abad ke-5 situs-situs Budha berukuran raksasa menjadi identitas Bamiyan – dan Afghanistan. Afghanistan yang kini dikategorikan sebagai salah satu negeri termiskin pernah menggoda Alexander Agung dan Genghis Khan. Dan di Bamiyan kaum Mongol meninggalkan jejaknya: etnis Hazara. Orang-orang Hazara memiliki ciri-ciri orang Mongolia, bermata sipit, berwajah mirip orang Cina.

Etnis Hazara adalah penganut Muslim Syiah dan meskipun jumlahnya tak lebih dari 9% dari keseluruhan penduduk Afghanistan mereka bagian dari negeri itu. Tapi seorang anak Afghan bernama Amir tidak pernah mengenal apapun mengenai kaum Hazara dari buku-buku sekolah dan tidak seorang gurupun membahasnya. Assef, seorang anak lain, menjelaskan situasi ini, “Afghanistan adalah negeri bangsa Pashtun. Kita adalah orang-orang Afghan sejati, orang-orang Afghan murni.” Bagi Assef, Hazara mengotori negeri dan darah Afghanistan.

Amir maupun Assef beretnis Pashtun. Penindasan orang Pashtun terhadap kaum Hazara tercatat dalam sejarah yang tidak kunjung mencapai bab akhir. Pada abad ke-19 para Hazara mencoba melawan tapi kaum Pashtun “menghentikan perlawanan mereka dengan kekerasan yang tidak terkatakan.” Dari buku sejarah tua berdebu milik mendiang ibunya Amir mengetahui kaum Hazara dibantai, rumah mereka dibakar, ditendang dari tanah mereka, dan para wanitanya direndahkan. Assef tak pernah ingin memangkas kebenciannya, ia menumbuhkan pemujaan terhadap Hitler dan terang-terangan mengungkapkan kekagumannya pada apa yang disebut ethnic cleansing.

Tapi Amir tinggal di pekarangan yang sama dengan Hassan yang Hazara. Baba – begitu panggilan Amir pada ayahnya – seorang laki-laki Afghan terhormat. Ia cerdas, berwawasan dan lebih terbuka ketimbang kaumnya, meski dalam beberapa hal tetap dikotomis tapi jauh dari kolot. Kediamannya merupakan rumah terindah di distrik Wazir Akbar Khan, kompleks mewah di sisi utara Kabul. Ayah Baba, kakek Amir, berteman dengan Raja Nadir Shah. Dan Baba menikahi seorang wanita yang keindahannya disempurnakan intelektualitasnya.

Sementara Ali, ayah Hassan, adalah yatim-piatu yang ditampung kakek Amir setelah kedua orangtuanya tewas digasak pengemudi teler. Ali dan Baba tumbuh bersama. Saat dewasa Ali melayani keluarga Baba hingga 18 tahun. Kedekatan Baba dan Ali melatari hubungan Amir dan Hassan. Namun keterikatan dua bocah itu mengandung dimensi lebih dalam: sama-sama kehilangan ibu dan menyusu dari payudara yang sama.

Mereka bersahabat tapi juga berjarak. Amir anak majikan dan Hassan anak pelayan; Amir Pashtun, Hassan Hazara; Amir Muslim Sunni, Hassan Syiah. Meskipun hanya beberapa langkah dari pintu rumahnya Amir tidak cukup terbiasa mengunjungi rumah Hassan, sebuah pondok kecil berdinding tanah liat.

Ali dan Hassan memiliki tanda fisik yang seolah menggenapkan mereka sebagai warga kelas dua. Ali pincang karena polio, Hassan sumbing. Sebagaimana orang Afghan yang gemar melemparkan joke seringkali ayah-anak ini dijadikan lelucon. Tapi mereka berdua menjalani hidup tanpa niatan mengguncang tatanan. Hal paling menonjol dari mereka tapi pernah tidak ditonjol-tonjolkan adalah kesetiaan dan penyerahan diri.

The Kite Runner adalah kisah pengembaraan yang panjang mengenai dua orang anak di tengah carut-marut kehidupan yang tidak pernah dirancangnya. Di Afghan semua itu terjadi tanpa tedeng aling-aling: Baba laki-laki yang berdaya tapi satu gerakan matanya bisa berarti memuluskan terjangan peluru Russia di dadanya. Kenyataannya memiliki seorang ayah di Afghanistan merupakan suatu kemewahan.

Novel ini bukan soal dampak invasi atau ketidakberdayaan di bawah kaki orang lain. Bukan cerita mengenai proses titik-balik seperti Ahmed Shah Massoud yang meninggalkan sekolah untuk menjungkirbalikkan keperkasaan Soviet dengan taktik gerilya dan nantinya menjadi hantu pegunungan yang menyebarkan teror pada kaum Taliban. Khaled Hosseini membawa kita menerobos permukaan dan menelusuri lembah-lembah kepedihan Afghanistan. Amir digasak pergolakan di sekellilingnya dan di dalam dirinya sendiri.

Beberapa peristiwa yang terjadi sebelum perang telah menjerumuskan Amir pada kegamangan dan ketakutan yang abadi. Amir tidak seperti Baba yang independen dan kokoh, Amir selalu bergetar menghadapi Assef yang mampu mencuilkan kuping anak lain. Saat Assef sungguh-sungguh mengancamnya justru Hassan yang menjadi tameng. Hassan yang Hazara. Hassan orang terdekatnya yang tak pernah benar-benar dianggapnya teman (“Dia bukan temanku! Dia pelayanku!” teriaknya dalam batin). Hassan yang tidak tega menimpuk anjing tapi akan melakukannya jika Amir menginginkannya.

Hassan mengarahkan katapel pada Assef dan Assef tahu bidikannya tidak akan luput. Assef mundur, Amir selamat. Tapi beberapa saat kemudian Assef membalas Hassan dengan kekejian yang tidak terbayangkan. Amir melihatnya – dan mengambil pilihan yang akan menjadi mimpi kelam sepanjang hidupnya. Keputusan ini sesederhana mengambil jalan “ke kiri atau ke kanan” namun konsekuensinya tidak pernah sederhana. Pilihan adalah pijakan. Langkah berikutnya menyerupai efek domino. Inilah bagian novel paling miris, paling menyesakkan bagi pembacanya. Simpel, karena sebagian besar dari kita akan melakukan hal yang sama dengan Amir.

Sejarah melarikan Amir ke Amerika. Ke negeri yang mengkhianati Afghanistan.

Demi memenangkan Perang Dingin Jimmy Carter dilanjutkan Ronald Reagan menyemangati mujahidin dengan hibah hingga tigajuta dollar. Dana itu tidak semuanya diterima pejuang Afghan. Toh mujahidin tidak lelah-lelahnya melesakkan hantaman ke pasukan Soviet. Soviet akhirnya limbung dan keluar dengan lunglai.

Tembok Berlin kemudian runtuh, Eropa Timur lepas dari cengkeraman Moskwa, dan Soviet terburai. “Afghanistan adalah alasan jatuhnya komunisme!” tandas Ahmed Shah Massoud. Wall Street Journal menyebut Massoud sebagai “Orang Afghan yang memenangkan Perang Dingin”.

Afghanistan merayakan kejayaannya. Tapi kedamaian tidak juga berpihak. Kelompok politik yang didukung Pakistan menjadi duri dalam daging. Anak-anak muda radikal yang mengklaim diri sebagai pembebas dengan menerapkan hukum secara ekstrem memaksa Massoud melepas kursi Menteri Pertahanan. Didukung sukarelawan yang merupakan kombinasi gerilyawan dan petani si Singa dari Panjshir itu kembali mengaum dari pengunungan. Kekuatan baru menguasai Kabul dan tiba-tiba menjadi oportunis yang menakutkan. Awan hitam kembali ke Afghanistan tapi Amerika tidak berhasrat lagi memandangnya.

Amir di San Francisco dan Hassan telah pulang ke Bamiyan saat situs-situs Budha yang dianggap berhala oleh Taliban dijadikan serbuk pasir oleh pasukan tank dan gempuran dinamit. Musik dan televisi ditabukan. Tidak ada lagi kompetisi layang-layang yang selama ini menjiwai anak-anak Afghan dan pernah membawa Amir serta Hassan mencapai puncak kebahagiaan seorang bocah.

Tubuh tanpa nyawa yang tergantung di tengah pemukiman adalah pemandangan sehari-hari. Penguburan jadi rutinitas. Kaum terpelajar dan akademisi mengemis dengan tubuh sebau bangkai. Para wanita terkunci di rumah mereka sendiri, tidak boleh sekolah, tidak boleh sakit karena layanan medis untuk mereka dilarang. Anak-anak bermain dengan perut merintih dan keesokan harinya ada di antara mereka yang dikuburkan. Seorang bayi lahir, beberapa jam kemudian sudah menjelma malaikat yang gamang.

Amir telah menjadi laki-laki bermartabat di Amerika. Ia menikahi putri Jenderal Iqbal Taheri yang terhormat. Ia kini bagian dari Amerika. Massoud berteriak-teriak bahwa masalah di Afghanistan hanyalah simpul dari masalah global yang juga akan menerjang Amerika – tapi Rambo yang dulu bersuara lantang dengan bibir menceng kini juga tuli. Amir malah sudah lebih dulu menutup kupingnya, membutakan hatinya.

Rahim Khan, laki-laki Pakistan partner bisnis dan sahabat Baba – juga salah satu karakter paling menarik dalam novel ini – berdiri persis di depan pintu batin Amir. “Ada jalan untuk kembali menuju kebaikan,” ketuknya.

Amir tinggal melangkah ke seberang untuk melakukan penebusan. Di sana ada Assef, ada Farid yang labil, tapi juga ada Wahid yang senantiasa teguh dan teduh. Di sana pertandingan sepakbola diselingi eksekusi rajam dan direktur panti asuhan menjual anak-anak yatim-piatu untuk membelikan makanan bagi anak-anak lainnya. Di sanalah Hassan selalu bercerita tentang Amir pada Sohrab putranya.

The Kite Runner kaya dan detail. Suatu “emotional journey” yang sentuhannya sedemikian mendalam. Sebagian kecil dari novel ini memang berkembang seperti alur film Amerika, cepat dan setiap elemen mengandung kejutan. Sebagian kecil lagi ikut terombang-ambing dalam usaha penebusan dan pemahaman. Tapi pada dasarnya novel pertama dr. Khaled Hosseini ini telah memperlihatkan “indahnya kehidupan di sebuah negara kacau-balau”.

Massoud yang rajin membaca Quran dan buku-buku puisi akhirnya gugur oleh bom bunuhdiri yang tricky. Dua hari kemudian, 11 September 2001, Amerika dilumpuhkan terjangan teroris. Tapi Hassan dan Amir telah memberikan aksentuasi yang kita butuhkan dalam kehidupan yang ringkih ini.

Ilustrasi : Foto karya Steve McCurry (National Geographic) dan Alexandra Boulat (VII).

Kamis, 11 Desember 2008

Zoo Story


Rencana kami adalah memenuhi undangan seorang staf kedutaan untuk mengikuti hajatan setiap Jumat di mana orang-orang Indonesia berkumpul, menyantap hidangan Indonesia, dan mengobrol dengan Bahasa Indonesia. Tapi seorang rekan salah menerjemahkan arah dan jalur bus hingga kami tersesat di kawasan lapang semacam alun-alun. Begitu ditelepon si staf kedutaan memastikan kami berbelok ke arah yang keliru tapi juga tidak terlalu jauh. Kami berjalan kaki mencari halte dan setelah lebih seratus meter seorang teman berseru, “Itu!” Jarinya menunjuk suatu bangunan yang bolehlah dianggap memenuhi ciri fisik sebagai Kedutaan Besar Indonesia. Kami berlari ke sana meski saya sebetulnya ragu.

Dan sama sekali bukan kedutaan. Karena ada gajah di pekarangannya. Itu kandangnya. Dua rekan wanita saat itu juga membalikkan tubuh dengan menggerutu. Bagi saya dan Azmar – satu-satunya non-Indonesia – penampakan gajah itu pucuk dicinta ulam tiba. Kami telah memasukkan kebun binatang ini dalam daftar wajib dikunjungi, kini tiba-tiba muncul di depan mata. Kedutaan ada di deretan bawah, lagipula Jumat depan dan depan-depannya lagi acara kumpul-kumpul dan makan-makan itu tetap terselenggara, jadi gajah di hadapan kami ini telah membantu mengambil keputusan. Toh rekan-rekan yang lain mengikuti meskipun lebih siap untuk resepsi.

Sejumlah satwa memiliki kandang dengan dua sisi. Orangutan misalnya, saat musim dingin seperti ini ditempatkan di sisi dalam ruang (indoor). Kandang dan kaca yang membatasi sama-sama luas, kami dan mereka sama-sama leluasa. Orangutan-orangutan kecil melompat-lompat, bergelantungan, kejar-kejaran seperti anak-anak TK. Yang bertubuh sedang ada yang terbawa arus permainan, ada yang menyudut sebagaimana remaja jatuh cinta. Yang besar menyerupai tetua yang bijak duduk memperhatikan keluarga besarnya.

Mereka bertetangga dengan gorilla dan jenis-jenis kera lainnya. Barangkali si orangutan remaja yang puber itu tengah memendam cinta pada salah satu tetangganya. Tak apa dibatasi sekat karena cinta tidak bersekat.

Dari panorama beberapa kandang saja terasakan mereka bahagia. Kebahagiaan yang sempurna ada di habitatnya tapi boleh jadi mereka terselamatkan karena tidak lagi berhadap-hadapan dengan mahluk tidak bercakar dan taringnya tumpul tapi lebih kuasa dan lebih buas. Mereka juga beruntung berada di sini karena dihadirkan dengan harmoni yang terjaga. Datang ke kebun binatang mestinya atmosfernya beda dengan berkunjung ke kolektor satwa.

Sisi kontras ada di negeri sendiri. Kebun binatang Gembira Loka tidak lenyap dari memori maupun album foto tapi kenangan masa lalu dilindas jaman. Bangunan kapal di tengah danau yang dulu begitu gagah dan menarik hati kini tampil sebagai kapal karam yang renta dan spooky. Satwa-satwanya seolah dipaksa pindah begitu saja, mereka sendiri yang harus adaptasi dengan alam kota yang bersampah dan pola hidup yang makin individualis.

Gembira Loka seperti rumah yang terlalu besar bagi pemiliknya. Dengan tenaga dan anggaran pas-pasan baru membayangkan menyapu seluruh sisi pelataran saja pasti sudah pegal. Sampah dan belukar berdiri sama tinggi. Hanya seekor macan yang memperlihatkan gairah, mencipak-cipakkan air kolam yang mengelilingi tubuhnya. Harimau lain diisolasi dalam kerangkeng yang benar-benar memasung geraknya, sehingga untuk kesekian kalinya kita disuguhi pemandangan satwa tidur.

Penghuni kandang-kandang sisi barat bersentuhan dengan perkampungan penduduk yang memancarkan alunan dangdut dan hingar-bingar berbagai ragam mesin sepanjang hari. Celakanya kawanan capibara – dengan tampang dan bentuknya yang menyerupai campuran tikus, marmut, dan kambing – dilabeli “tidak dilindungi”.

Di antara kelompok-kelompok keluarga yang duduk di rerumputan menyantap bekal makan siang gajah serta orangutan memberikan jasanya. Gajah boleh ditunggangi berkeliling tapi ia dan penuntunnya sama-sama cemberut. Si orangutan menjadi model foto bareng, ia seperti selalu tersenyum.

Kebun binatang Mangkang sepintas memberikan harapan akan adanya lingkungan yang lebih seimbang: di antara keluarga satwa itu sendiri, interaksinya dengan manusia, dan kesatuan itu semua dalam miniatur semesta. Sepanjang perjalanan dihiasi deretan papan penunjuk yang menjanjikan: Taman Margasatwa Mangkang 1 KM, dan seterusnya. Tiba di sisi pagar utama yang hanya beberapa meter dari jalanan yang riuh rasanya agak berlebihan membiarkan harapan tetap pada levelnya. Hawa yang menyengat berpadu-padan pepohonan yang tidak menghadirkan keteduhan. Pemandangan pertama adalah sepasang monyet tanpa kandang dengan perut dililit tali pengikat. Kemudian atraksi favorit penyelenggara kebun binatang: wisata di punggung gajah. Gajah berjalan melintasi sederet kandang-kandang semi-permanen. Tampaknya ini memang ruang transit menunggu area lokalisasi benar-benar siap namun seekor biawak yang kegerahan gagal menceburkan diri ke air keruh yang dimilikinya karena embernya kekecilan. Beruang madu tetangganya mondar-mandir secara konstan, sesekali berdiri di sudut, menyeringai dan berteriak, seolah memaki kesendiriannya, biliknya yang sempit dan atap seng di atasnya.

Si biawak dan beruang madu bertetangga dengan sepasang orangutan, satu besar, satu kecil. Mereka lebih atraktif. Si Besar gemar menggelembungkan pipinya kemudian menyemburkannya hingga menimbulkan suara seperti menyemprot. Sekilas tingkahnya mengendorkan suasana gersang dan sendu. Tapi sebagaimana orangutan di Gembira Loka yang suka tersenyum-senyum sendiri saya takut ia sudah gila.

Di Budapest hanya beberapa ekor satwa yang tinggal sendirian. Bisa jadi karena keterbatasan dana kebun binatang di tanahair belum bisa mendatangkan satwa bersama pasangan atau keluarganya. Cuma melas juga membayangkan kemungkinan lain, satu per satu mati, entah gagal adaptasi, entah dipicu lingkungan yang individualis tadi. Seperti cerita seorang teman yang pernah melihat seekor monyet luka parah setelah berkelahi dengan sesamanya dan ia buru-buru melaporkannya pada petugas. Kata Si Petugas, “Biarin Mbak. Sudah mau tutup, saya mau pulang.”

Kami berkunjung ke kebun binatang Budapest tidak di hari libur, di musim dingin, wisatawan hanya sedikit, tapi suasana terasa hidup oleh gerak dan bunyi-bunyian penghuninya. Dengan tempat tinggal yang tidak sekedar rumah petak yang gerah dan kotor harimau tidak segan menampilkan diri pantas disebut raja hutan dan hewan-hewan yang lebih mungil leluasa berkenes-kenes seperti dalam animasi Hollywood.

Pengelola bersama pengurus kebun binatang di dalam negeri hanya sekrup dari lingkungan yang lebih besar, tidak mungkin mengelompokkan mereka sebagai satu-satunya pihak yang bertanggung-jawab. Saban hari kita disuguhi kampanye dan proposal untuk kehidupan yang lebih baik, di sisi lain beberapa kebun binatang di Indonesia memperlihatkan kita tidak pernah merawat kehidupan.

Foto: Adam Herdanto

Minggu, 07 Desember 2008

The Eyes of God are on Us Always


*) Catatan ini ditemukan kembali akhir tahun 2006 di sekeping disc terlantar yang belel, tujuh tahun setelah ditulis. Syukurlah masih bisa diakses. - rah.

Beberapa bulan silam saya menemukan salah satu film Woody Allen Crimes and Misdemeanors (1989) di rental video di bilangan Barito. Film-film Woody Allen – yang tidak pernah beredar di bioskop-bioskop di sini – membawa pengalaman menikmati film sebagai esai. Sehingga penemuan film itu di rental video yang hiruk-pikuk dengan film-film produksi studio-studio raksasa Hollywood menjadi kebetulan yang amat berharga.

Mengenai pengertian esai saya pinjam definisi Ignas Kleden (Prisma, no. 8/ tahun XVII/ 1988): "Esai adalah tulisan yang ditandai oleh ada-tidaknya surprise. Kekuatannya tidak terletak pada argumen yang dikandungnya, melainkan pada lukisan pikiran dan perasaan. Esai tidak berpretensi mengajukan suatu pemikiran yang kokoh dan keras, melainkan menyajikan suatu obrolan yang cerdas dan memikat".

Woody Allen seperti sedang mengobrol. Materi obrolannya pengalaman pahit dan tragis, seperti kemunafikan, perselingkuhan, dan perceraian. Tapi dengan “mengobrolkannya” kita dibentangkan jarak dengan masalah-masalah kompleks itu. Allen tidak menggiring penonton untuk melihat secara hitam-putih, untuk memihak dan menghakimi tokoh tertentu. Dengan menempatkan penonton sebagai “teman ngobrol” tokoh-tokoh di film ini mendapatkan ruang yang leluasa untuk mengungkapkan diri – merefleksikan perasaannya, pikiran-pikirannya, dan argumentasinya. Allen tidak mengeksploitasi pengalaman tragis menjadi drama, melainkan mendeskripsikan dari berbagai perspektif karakter-karakternya.

Konteks yang dibawakan Allen adalah kompleksitas yang bisa saja dialami setiap orang. Tapi sebagaimana peta batin manusia yang tidak sederhana, tokoh-tokohnya adalah manusia-manusia yang penuh surprise. Orang-orang biasa yang biasa kita jumpai setiap hari. Tapi di balik “hal-hal yang biasa” itu orang-orang itu memiliki jiwa, batin, dan pengalaman yang rumit. Bisa dibayangkan bagaimana leluasanya medium yang dipakai Allen ini ketika konteks yang riil dan menyedihkan dieksplorasi menjadi wacana yang getir, lucu, dan imajinatif.

Judah Rosenthal digambarkan sebagai dokter mata yang sukses, kaya, terhormat, dan memiliki keluarga yang sempurna. Namun diam-diam Judah juga punya selingkuhan. Seorang pramugari bernama Dolores. Masalah mulai timbul tatkala Dolores berniat mengungkap affair mereka pada istri Judah, karena – celakanya – ia betul-betul menginginkan Judah, dan Judah harus menceraikan istrinya demi dirinya.

Judah menolak. Bagaimanapun Dolores hanya seorang pacar. Judah menawarkan uang ganti rugi segala setelah tertekan oleh rengekan Dolores. Dolores justru makin ngotot memulai hubungan yang lebih konkret. Judah kian terteror. Dolores tetap akan nekad menemui Nyonya Rosenthal jika Judah tak menuruti kemauannya.

Batin Judah makin berkecamuk jika mengingat ajaran-ajaran ayahnya – seorang Yahudi yang religius – mengenai moral, dosa, dan Tuhan. Satu hal yang paling diingat Yudah dari ayahnya: Tuhan akan melihat apapun yang manusia lakukan. Sementara selama ini Yudah sudah memperlakukan nasihat itu sebagai masa lalu belaka – karena ia seorang ilmuwan.

Awalnya Judah mengungkapkan masalahnya pada Ben, seorang rabbi yang menjadi pasiennya karena terancam buta. Sebagaimana rohaniwan Ben memberikan nasihat-nasihat yang mengacu pada moralitas dan pilar-pilar normatif. Tentu saja pandangan-pandangan yang nyaris dogmatis itu tidak serta-merta melepaskan Judah dari masalah.

Judah kemudian minta nasihat pada Jack, adiknya. Jack sudah lama mencampakkan ajaran-ajaran ayahnya, kini malah hidup sebagai mafioso. Sang Adik memberikan saran tak terduga: bunuh Dolores. Jack menjamin pembunuhan adalah cara paling efektif menyelesaikan masalah Judah dan prosesnya akan berjalan rapi. Tidak bakal ketahuan siapa pelakunya, siapa otaknya. Konflik batin Judah kian riuh. Ia betul-betul tidak membayangkan mengakhiri masalah dengan pembunuhan. Namun begitu rongrongan Dolores makin intens Judah tidak melihat cara lain lagi.

Singkat cerita Dolores akhirnya terbunuh. Judah didera perasaan bersalah meskipun jaminan Jack memang terbukti. Saking tertekannya Judah sampai berpikir akan mengaku pada polisi. Toh ia lebih memikirkan keluarga dan dirinya sendiri.

Salah satu cara yang ditempuh Judah untuk meringankan bebannya adalah mengunjungi bekas rumah keluarganya, di mana ia bisa mengenang ajaran-ajaran ayahnya dan melihat benar-salah keputusannya. Di rumah itulah keluarga besarnya sering mengadakan makan malam sembari melakukan diskusi yang mendalam dan intelek.

Judah flashback. Dilihatnya dirinya yang masih belia berada di tengah diskusi. Bersama Jack ia mengikuti perdebatan mengenai filsafat Lenin, pembantaian 6 juta orang Yahudi oleh Hitler, kekuasaan, struktur moral, impuls manusia yang pada dasarnya baik, nihilis, sampai seremoni berdoa dan logika. Tatkala diskusi menjadi meriah dan kontekstual dengan masalah yang tengah ia hadapi, Judah Dewasa tiba-tiba mengajukan pertanyaan pada ayahnya, "Bagaimana jika ada yang melakukan pembunuhan?"

Ayahnya spontan menjawab, "Bagaimanapun dia akan dihukum." Tapi pamannya menambahkan, "Jika tertangkap."

Ketika ayahnya masih juga ngotot pamannya berkata pada sang ayah, "Kau terlalu menekankan Alkitab."

Ayah Judah menangkis, "Dalam Perjanjian Lama atau Shakespeare pembunuhan akan terbongkar."

Lihat saja bagaimana Woody Allen luwes saja mengintegrasikan Judah terlibat langsung dalam adegan kilas balik itu. Ia tidak bermain-main dengan efek, misalnya memecah pertanyaan Judah dan adegan flashback itu dalam scene terpisah. Allen meneroboskan dan membenturkannya begitu saja. Dibiarkannya Judah berkonfrontasi langsung dengan ayahnya. Bukankah dari sana ia juga mendapatkan tanggapan alternatif dari si paman? Bukankah perlawanan terhadap ajaran yang dogmatis sudah ada sejak Judah masih plonga-plongo ? Jadi soal moral itu adalah bagaimana masing-masing pribadi memandang dan mengambil sikap. Bukan soal dosa.

Berpegang pada esensi esai Woody Allen tidak menekankan film-filmnya pada keindahan fisik atau dramatisasi. Esai menurut Klenden merupakan sebuah dialog. Dibanding ilmu dan filsafat yang berpretensi menjadi tertib, disiplin, dan rasional, maka esai cenderung nakal, kocak, dan berpedoman pada kebebasan manusia. Maka film Allen menjadi "catatan tentang berbagai kebingungan dan kekeliruan sebagai resiko kebebasan". Dan dalam resensinya mengenai film ini kritikus Roger Ebert menulis, “It’s not about what will happen to people, it’s about what decisions they will reach.”

Film ini memang mengobrolkan, mendialogkan moral dengan “bebas dan nakal”. Woody Allen memainkan tokoh-tokohnya sebagai manusia biasa yang bisa memegang teguh moralitas tapi juga rentan mengesampingkannya. Tokoh terpandang seperti Judah yang tumbuh dari akar budaya dan agama yang kuat toh bisa saja kehilangan arah setelah memiliki apa saja, sampai punya selingkuhan dan akhirnya menjadi pembunuh. Jack adiknya menjelma seseorang yang lekat dengan bunuh-membunuh. Sebaliknya Rabbi Ben justru mampu melihat dengan jernih pada saat matanya benar-benar buta.

Kemanggisan, Oktober 1999

I Dont Like Monday


Sejak bekerja di negeri orang setiap akhir pekan selalu saya agendakan untuk aktivitas di luar rumah. Meskipun muncul isu kemungkinan adanya badai kiriman dari Rusia atau Ukraina yang bisa bikin telinga ngilu, darah bergumpal di hidung, dan tulang ditusuk suhu belasan derajat celcius di bawah nol nyatanya area wisata seperti kawasan Castle Hill tidak menjadi sepi. Agaknya sebagian orang Barat memaknai “refreshing” tidak sebagai leyeh-leyeh di rumah atau bercinta sepanjang hari. Saya adalah perantau yang ndeso dan gumunan yang memang pingin ke mana-mana tapi tekanan pekerjaan di lingkungan orang Eropa menggenjot motivasi untuk memanfaatkan hidup saya di luar kantor sebaik mungkin.

Inginnya mengawalinya dari Jumat sore. Sebelum pukul sebelas siang program saya sudah selesai on air. Tidak ada boss yang akan mengawasi apa yang akan saya lakukan setelah itu. Di luar jam siaran yang eksak pekerjaan rutin lainnya bersifat “bebas”. Artinya terserah akan dikerjakan kapan. Mau di office hours, mau di gelapnya malam atau bekunya subuh, pintu kantor terbuka. Di kantor juga tidak ada mesin dan kartu absen. Yang penting semua materi yang akan digunakan dalam meeting reguler setiap Senin siang sudah harus diterima para boss selambatnya Jumat petang. Tapi di sini masalahnya. Butuh waktu sedikitnya dua jam untuk mempersiapkan materi itu. Setelah itu mental biasanya lelah. Agaknya akumulasi beban kerja selama sepekan. Berjalan-jalan di pedestrian Vaci Utca atau menonton jazz di Columbus Jazzklub yang berlokasi di sebuah kapal yang tertambat di dermaga Sungai Danube rasanya masih sanggup. Tapi untuk mengunjungi tempat bersejarah seperti House of Terror atau Szentendre sepertinya kok tidak rela kalau hanya sekedar pernah ke sana.

Materi yang harus dipersiapkan di antaranya laporan mingguan dan cuplikan tayangan terbaik dari program yang saya pimpin atau inovasi yang telah saya lakukan. Weekly report ini tidak bisa dikerjakan asal-asalan. Para Country Director termasuk saya harus menyusun laporan setiap program yang on air seminggu itu sedeskriptif-deskriptifnya, disertai analisa yang kokoh dan perencanaan secara detail untuk pekan berikutnya. Tidak itu saja. Boss-boss itupun selalu melakukan cross check, membandingkan daily report dengan weekly report: taruhlah pada hari Rabu siaran program saya mengalami gangguan teknis, saya dan staf teknik harus segera mencari penyebabnya dan menuliskannya di daily report yang diakses para boss. Jika menuliskan “komputer hang” maka dalam weekly report saya harus melaporkan apa yang sudah saya lakukan agar komputer tidak berulah lagi. Jadi jangan sampai tidak nyambung atau bahkan cuek, menganggap tidak ada persoalan lagi. Kita sendiri yang akan binasa di rapat.

Apa yang akan terjadi jika tidak membuat laporan atau melanggar tenggat? Denda. Limaribu forint. Dirupiahkan duaratus-limapuluhribu. Jika tidak membuat cuplikan video? Limaribu lagi. Karena dianggap seminggu itu kita malas, tidak memikirkan terobosan-terobosan atau inovasi yang akan mendorong program makin berkualitas, tidak membosankan, dan tidak kehilangan pemirsa. Jangankan itu, terlambat masuk ruang meeting lima menit saja harus merelakan uang kita kok. Duaratus limapuluhribu rupiah tadi.

Jaidi, rekan serumpun Melayu, sering mengatakan, “Ah tidak usah pusing, my man. Dibanding gaji kita sepuluhribu forint itu kecil.” Tapi bayangkan saja jika setiap pekan melepas limaratusribu rupiah berarti sebulan dua juta. Berapa buku yang bisa dibeli di QB dengan uang segitu begitu pulang ke tanahair nanti? Dengan uang sebesar itu di dompet sebelum belanja dvd di Mangga Dua mungkin harus memperiapkan satu kotak besar bekas kardus tv 21 inch ketimbang harus menenteng-nenteng puluhan tas kresek. Meski status saya single (dan kadang sangat bahagia dengan situasi ini) tabungan harus dijaga, karena naga-naganya kehidupan berat di sini membuat saya seringkali terusik desakan kebutuhan untuk berbagi.

Saya tiga kali kena denda. Dua karena report saya terlambat masuk. Satu lagi karena hal aneh yang bikin gondok. Menjelang akhir berlakunya visa kantor meminta saya mengurus perpanjangan satu bulan lagi di kantor imigrasi. Saya ke sana dan kantor imigrasi mengagendakan wawancara dengan saya hari Senin pekan depan. Saya kembali ke kantor, laporan sekaligus pamit pada Big Boss (sebagian staf diam-diam menjulukinya Ibu Negara) bahwa Senin depan tidak dapat menghadiri meeting.

“Well, okay, five thousands forint,” kata si First Lady enteng.

Lho ini kan demi kepentingan kantor? Bukan saya yang minta pihak imigrasi untuk menjadwalkan di hari Senin! Ya saya senang terbebas dari meeting tapi saya tidak punya rencana menghindarinya! Toh tanpa ikut meeting saya juga tetap akan mengumpulkan report! Pihak imigrasi yang mengatur. Bukan saya! Salah saya di mana?! Well, tidak ada gunanya mendebat.

Saya datangi ruangan sekretaris direktur. Saya serahkan sejumlah uang, totalnya seribu-limaratus forint. “Banyak sekali!” katanya. “Kesalahan apa saja yang kamu lakukan?”

Saya ceritakan yang satu itu. Seribu sisanya buat indent, siapa tahu pipis sebentar juga didenda. Si sekretaris terbahak dan berusaha mengembalikan uang saya yang seribu. Tapi saya sudah lebih dulu berjalan keluar.

Uang denda itu pada Senin minggu ketiga akan jadi hidangan makan siang para Country Director dan boss-boss peserta meeting. Semakin banyak yang kena denda, makin banyak kesalahan yang dilakukan, hidangan kian istimewa. Cuma di lidah rasanya tidak seenak seharusnya. Kita mengunyah dengan perasaan seperti narapidana yang diberi makan enak sebelum digantung. Dengan acara makan-makan jam berlangsungnya meeting jadi makin lama dan yang jelas si First Lady jadi makin trengginas.

Lagian, tidak kena dendapun setiap Country Director tetap gemetar kok menghadapi meeting hari Senin. Meeting reguler setiap Senin jam 13.00 rasanya seperti “killing fields”. Hari itulah beban terberat dalam hidup saya. Saat itulah satu-satunya mimpi buruk selama di Eropa - yang celakanya datang rutin. Minggu malam tidur tidak pernah nyenyak, bangun selalu lebih cepat dari alarm. Perut jadi gampang mulas dan emosi tidak stabil, gampang senewen. Rekan-rekan satu tim selalu menghindari saya setiap Senin. Huh. Padahal saya paling membutuhkan mereka pada hari Senin!

Suatu saat rekan Country Director Inggris sampai melonjak-lonjak bahagia saat dari jendela lantai atas melongok ke area parkir ia tidak melihat mobil First Lady. Padahal jadwal meeting satu jam lagi. Tidak ada First Lady tidak ada meeting. Saya sempat ragu, jangan-jangan jaguarnya lagi diservis. Tapi rupanya si rekan satu itu hapal betul kebiasaan First Lady, mungkin dia memilih tidak ngantor jika mobil kesayangannya lagi invalid. Dari sumber yang bisa dipercaya kami memperoleh keterangan beliau memang tengah berada di Beirut. Itulah Senin terindah. Kami merayakannya di Cafe Tic Tac di seberang kantor. Beramai-ramai menenggak palinka, brandy khas Hungaria.

Terus terang pada awalnya saya mengagumi si First Lady: cantik, tinggi, mengenakan stelan apapun selalu terlihat elegan, di kantor banyak wanita yang menyejukkan mata, presenter-presenter yang sophisticated, tapi justru dia yang paling menonjol, bicaranya efisien dan efektif (kata-katanya pelit tapi menusuk perasaan), keengganannya untuk bermanis-manis justru membuatnya makin menawan – dan saya tidak peduli dia istri CEO perusahaan tempat saya bekerja. Saya berusaha selalu tersenyum padanya. Dia sih tidak.

Baru beberapa pekan masuk perusahaan ini saya diajak Agnes Barati, Country Director tim kami sebelumnya, untuk mengikuti meeting hari Senin. Suasananya memang tegang. Country Director Argentina, Inggris, Polandia, Ukraina, Slovakia, sampai Mesir yang sehari-hari punya sense of humour tinggi mendadak tidak mampu senyum. Siapapun yang tidak siap materi maupun argumentasi akan dicecar pertanyaan-pertanyaan yang begitu interogatif dan entah kapan selesainya. Cari muka, bermanis mulut tidak berlaku di sini. Director yang paling senior sama groginya dengan yang baru diangkat sebulan. Berusaha menyelamatkan diri dengan mengumbar-umbar janji akan First Lady catat di bukunya – dan pada saatnya nanti akan dia tagih.

Jaidi rekan serumpun itu (hanya kami berdua orang Asia Tenggara yang punya posisi lumayan di sini tapi juga yang paling gemetar di ruang meeting) sempat menulis sesuatu di secarik kertas, menggesernya ke hadapan saya, dia bilang: My man, boss yang satu ini asli Hungaria, hidupnya suram dijajah Nazi lalu Soviet, dia jadi sangar karena belum lama merdeka, tidak seperti kita. Saya tersenyum saja. Dari tadi saya memang senyam-senyum terus. Saya sangat menikmati meeting ini. Saya kan cuma visitor.

Tapi kehadiran saya dalam meeting hari itu rupanya tidak seperti melancong ke Sea World. Kinerja yang dinilai sangat baik membuat saya dipromosikan menjadi Country Director, semacam produser eksekutif, itu sebabnya saya diajak ke dalam sana. "No doubt!" Agnes menyemangati sekaligus menimpakan kekuasaan dan tekanan di bahu saya.

000

Kini setiap Senin saya harus berada di dalam sana dan menjadi bagian dari orang-orang tertekan itu. Siapa yang tidak happy diakui kualitasnya, oleh orang-orang Eropa lagi, dan dalam tempo relatif cepat dipromosikan ke level yang lebih tinggi? Saya mensyukurinya, merasa tertantang untuk tetap melakukan yang terbaik, tapi sejak itu menjelang Senin jam 13.00 perut jadi gampang nausea. Lambung terasa neg seperti diaduk-aduk, seperti yang saya alami di masa SMP, kala pertama kali mendatangi rumah gadis terindah di sekolah.

Dan inilah meeting pertama saya sebagai Country Director. Sudah hampir dua jam berjalan saya belum memperoleh giliran. Si First Lady melirik saja tidak. Hmm saya rasa ini dispensasi karena saya baru tiga hari menjabat.

Ups ternyata tidak. Tiba-tiba matanya menatap seperti harimau Bengali di kebun binatang Budapest bersiap mencabik-cabik kambing Jawa. Dengan suaranya yang flat, dengan tone rendah tapi menghunjam uluhati, dia menyatakan tidak menerima report tim saya dan menanyakan kenapa saya tidak mengirimkannya melalui email internal. Waduh saya memang tidak bikin karena belum tahu caranya. Saya plegak-pleguk. Dan mengakui tidak membuatnya. "Why?" serangnya. My man, you're dead man!

Mata saya berputar-putar. Tapi mata orang lain hanya tertuju ke saya. "Adam, why?"

Iya, iya, sik to, bahasa Inggris saya tiba-tiba hilang dari memori.

Thanks God Agnes yang berada di ruangan ini dalam kapasitasnya sebagai manajer bisnis membela. Dia bilang dia yang lalai belum memperkenalkan tahapan-tahapan yang mestinya saya lakukan. Seperti pantulan bola pingpong semua menatap saya dan mantan boss saya silih-berganti. Lidah First Lady meladeni argumentasi Agnes tapi matanya tetap mencabik saya. Saya betul-betul baru menyadari keistimewaan big boss kami ini, tidak saja kata-katanya yang efektif tapi juga fungsi tubuhnya.

Agnes yang kadangkala sosoknya menyerupai Pocahontas ini adalah supervisor saya, Country Director kami sebelumnya, dan ia telah melakukan banyak hal pada kami. Ia tidak pernah absen mendampingi di masa training, bahkan saat simulasi harus dimulai jam lima pagi ia selalu berada di tengah kami. Training lazimnya berlangsung selama satu bulan tapi dengan motivasi dan rekomendasi darinya kami sudah bisa "dilepas" pada minggu kedua. Agnes juga menghidupkan komunikasi dua-arah, atasan tidak harus selalu benar dan tidak cuma boss yang berhak marah. Saya pernah marah padanya, tentu saja dengan cara yang selama ini saya kenal, tidak mengungkapkannya secara frontal tapi grundelan dengan wajah njegadul dan bibir menjep, dan Agnes menyusul saya yang mutung untuk membuka front adu argumentasi sekaligus berdialog.

Keesokan harinya di ruang kerja Agnes meletakkan bola globe di meja saya. "Hi. Where is Indonez?" Orang-orang sini memang ndableg, dibilang Indonesia tetap saja menyebut Indonez. Saya tunjukkan keseluruhan wilayah negeri saya. Dia kaget seluas itu. Bola diputar. Dibanding-bandingkan dengan negaranya. Saya tertawa, saya bilang, untung pertengkaran kita kemarin tidak berlarut-larut, tidak sampai membesar dan jadi perang antarnegara. Dasar ndableg dia malah bilang, "Kalau negara saya yang menang Hungaria jadi punya pantai."

Agnes telah memberikan kepercayaan dan tanggung jawab yang besar pada saya. Dengan itu dia juga mempertaruhkan kredibilitasnya. Orang-orang akan melihat sendiri dan selalu memantau kemampuan saya sesungguhnya. Menghadapi meeting hari Senin tidak bisa dilakukan dengan sembunyi dalam dikotomi "orang lapangan". Bahwa yang paling penting adalah pelaksanaannya. Evaluasi, introspeksi, pertanggungjawaban, dan perencanaan yang dilakukan secara intensif dan konsisten merupakan fase-fase yang sangat menentukan state of the art kita.

Taruh kata saya membiarkan diri dilepas dari beban dan jabatan Country Director barangkali Jaidi akan mengatakan, "Well my man, kasihan deh. Untung saya dijajah Inggris."

Saya mengangkat salah satu tangan, memberanikan diri bicara, “Sorry, it’s my fault.”

“I know it’s your fault!!” bentak First Lady. Saya kira dingin keringat di tubuh saya lebih dahsyat dari badai Ukraina.

Saya membayangkan keluar dari ruangan ini akan langsung bergerak ke resto sebelah kantor, melintasi sekolah balet di mana saya selalu meninggikan leher untuk melihat ballerina-ballerina berkaki jenjang tapi padat di dalam sana. Saya akan makan salmon, dengan tiga sendok paprika pengganti sambal terasi, tidak perlu membayar karena makan siang ditanggung kantor. Setelah itu meloncat ke tram dari depan kantor (transport dalam kota juga digratisi perusahaan), menuju mal Mammut, mencari compact disc Thelonious Monk, oh iya juga harus mengambil buku mengenai Luis Bunuel yang sudah saya pesan minggu lalu, melakukan rutinitas bulanan di Western Union, melihat-lihat Vaio terbaru, dan nonton Syriana di sinepleks. Sesudah itu makan malam di restoran Turki (ada menu kambing yang rasanya menyerupai sate klathak di Jalan Imogiri) dan di apartemen nanti ngobrol dengan Agnes melalui handphone sampai telinga pegal (telepon-teleponan dengan rekan satu company bebas tagihan) ... Di luar sana saya bahagia, kenapa di ruangan ini tidak? Bukannya dari sini kebahagiaan itu berasal?

Senin berikutnya saya satu lift dengan First Lady. Berdua. Tidak sengaja. Tumben dia tersenyum lebih dulu, “I have your report. Thanks. It's nice.”

Saya tersenyum lega. Dari refleksi dinding lift yang bening terlihat wajah saya agak jingga. Tapi detik selanjutnya dia tidak memandang saya, tidak juga menanyakan hal lain. Duh. Mungkin senyum saya terlalu lebar.

Foto : Adam Herdanto

Persepolis


Seorang mahasiswi jurusan komunikasi datang untuk mendiskusikan rencana skripsinya. Rancangannya sebelumnya berada di luar jangkauan wawasan saya sehingga sulit untuk membantu merampungkannya dalam tempo terbatas. Ia ternyata juga bingung dengan tema yang dipilihnya sendiri itu dan akhirnya melepaskannya. Kami bertemu untuk membicarakan gagasan segar, tema baru yang tidak berjarak dari apa yang selama ini kami pelajari.

Diskusi menjadi terjal bukan karena perdebatan yang memuncak tapi karena ia datang dengan suatu beban. Dosen pembimbingnya sudah sepakat rencana sebelumnya dilupakan tapi membebaninya dengan hal lain. Si Dosen meminta skripsinya bicara mengenai Persepolis, film animasi karya komikus asal Iran Marjane Satrapi bersama Vincent Paronnaud, seorang penulis yang juga komikus Prancis. Film yang kabarnya membuat repot Pemerintah Iran ini pernah diulas Kompas, juga dianugerahi empat bintang oleh Roger Ebert.

Sang Pembimbing membimbingnya pada sejumlah data yang dimilikinya mengenai film itu dan menyemangatinya sedemikian rupa sampai terkesan tidak menyisakan celah untuk alternatif tema lainnya. Rasanya seperti mendesakkan topik Persepolis itu tapi setahu saya mahasiswi ini bukan orang bodoh yang harus diarah-arahkan. Malas mungkin. Bodoh tidak. Jika bodoh mestinya didesak ke film kuntilanak-kuntilanakan.

Hal pertama yang harus dilakukan si mahasiswi tentu saja menontonnya tapi Persepolis tidak ada di rak film saya. Juga belum terlihat di gerai-gerai dvd bajakan di sepanjang trotoar Jalan Mataram maupun di tengah mal Ambassador. Teman ini sampai menghubungi kantor Jakarta International Film Festival (Jiffiest) dan mengaduk-aduk internet untuk men-download-nya. Tetap gagal.

Saya sampai kasihan padahal selama ini jarang dihinggapi perasaan semacam itu. Saya sarankan materi lain yang ada dan cukup saya kuasai sehingga bisa membantunya lebih total. Saya ajukan film 4 Months, 3 Weeks, and 2 Days.

Film berlatar kediktatoran Nicolae Ceausescu di Rumania itu menarik ditarik relevansinya ke konteks di sini. Christian Mungiu sutradaranya tidak memperlihatkan sama-sekali kekejaman rezim Ceauşescu tapi menampilkan ketimpangan individu-individu di dalam cengkeramannya. Bukankah Orde Baru tidak saja punya kemampuan menjadi elmaut tapi juga melahirkan kultur tertentu dalam masyarakatnya? Kultur seperti yang terpotret dalam film Si Mamad. Di film bikinan 1973 ini Syumanjaya memotret korupsi yang bahkan harus dilakukan seseorang yang jujur.

Saya bicara panjang-lebar dengan antusias dan provokatif. Ia berjanji akan langsung mencari dvd 4 Months dalam perjalanan pulang nanti tapi caranya mendengarkan dan tatapannya terasa begitu sendu. Saat itu juga saya paham sejak awal sudah ditaklukkan dosennya dengan telak. Wajahnya tidak memancarkan passion saat membicarakan Persepolis tapi juga tidak berkutik. No idea si dosen yang agaknya penggemar film-film kontroversial itu yang sebegitu berpengaruh atau orang di depan saya ini yang lemah.

“Ok, kira-kira kamu mau eksplor Persepolis dari sisi apanya?” Bukankah saya masih teman yang baik? “Perempuan yang terkekang?”

“Kenapa film itu sampai dilarang-larang? Didemo segala-macem.”

“Dosenmu bilang gitu?”

“Iya. Dan dia punya semua datanya.”

“Apapun itu kamu tetep harus nonton.”

“Iya. Makanya aku ke sini.”

Emang gue rental?

Jika Persepolis merupakan “pembebasan” Marjane Satrapi dari penelikungan suatu kultur masyarakat dan boleh jadi menjelmakan hal yang sama bagi individu lainnya, mahasiswi di depan saya ini membiarkan diri dikekang. Mungkin setelah menontonnya ia berani bilang tidak pada dosennya. Mungkin juga tidak ada pengaruhnya karena terlanjur tidak berani mandiri.

“Di mana aku bisa dapet filmnya ya Mas?” Dia desperate.

“Tanya dosenmu itulah. Kan dia yang paling tahu.” Saya hopeless.

“Dia nggak punya.”

“Lho dia nonton di mana?”

“Dia belum nonton.”

Ilustrasi – Cuplikan adegan Persepolis dan 4 Months, 3 Weeks, and 2 Days.

Shopping Dog




Foto : Adam Herdanto

Saya, Rooms, dan Strategi Politik Kamar

Dirmawan Hatta

Saya selalu beranggapan bahwa sejumlah institusi formal masyarakat di mana saya tumbuh adalah institusi yang pengap, bebal, sekaligus ceriwis, terlalu banyak mengatur. Insitusi yang saya maksud terutama adalah institusi-institusi bikinan negara. Mereka mengatur bagaimana saya mesti berpikir dan merasa, serta sekaligus menciptakan hal-hal yang harus saya pikirkan dan rasakan. Tidak banyak ruang yang saya bisa kendalikan sendiri sepenuhnya.

Saya sering membayangkan sebuah kamar yang cuma saya yang tinggal di sana. Sebuah kamar di sebuah tempat yang tidak ada tulisan “Tamu Bermalam Harap Lapor Ketua RT” di ujung gangnya. Sebuah kota di sebuah negara yang orang boleh beragama atau tidak beragama, yang orang juga boleh untuk jadi hetero atau homoseksual sebagaimana kecenderungannya.

Belakangan, bayangan-bayangan itu menjadi kenyataan, meskipun jalan-jalan tidak berubah nama dan film Pengkhianatan G 30 S/PKI tidak lagi diputar serentak di televisi tiap tahun. Dari berita-berita di koran saya mendeteksi adanya kekuatan lain yang jauh lebih canggih yang mengatur bagaimana negara mengatur saya. Ijinkan saya menuduh bahwa kekuatan itu bernama kapital internasional.

Sekarang mereka ingin sumber-sumber daya alam diprivatisasi, termasuk sekolah dan rumah sakit. Mereka ingin pemerintah menghapuskan subsidi dan proteksi. Mereka ingin semua berada dalam mekanisme pasar bebas. Di mana semua diukur dalam jual-beli, yang saya pikir, baik-baik saja, seandainya orang punya kekuatan jual dan kekuatan beli yang sama, atau dengan kata lain, ada keadilan sosial dan ekonomi sebelumnya, yang saya juga tahu, itu tidak ada. Saya tahu, bahwa negara saya telah gagal meletakkan pondasi untuk mencapai hal-hal selama kurun waktu yang dimilikinya untuk menghidupi segenap warganya dalam mekanisme perekonomian kapitalistik yang dilindungi negara (state capitalism), sesuatu yang diamini oleh hampir semua negara-negara baru yang tercipta paska-Perang Dunia II, dan sesudahnya oleh negara-negara yang berada dalam Blok Barat selama era Perang Dingin, baik diakui atau tidak.

Saya tidak tahu apakah saya harus berbahagia atau tidak dengan menyusutnya kekuatan-kekuatan negara yang mengatur hidup saya yang saya sebut di atas. Saya mulai berpikir, bahwa ternyata saya tidak tumbuh di sebuah ruang hampa, saya tumbuh di tengah kait kelindan kepentingan yang menjalankan kekuasaannya dengan benang-benang amat halus, menentukan bagaimana saya harus berpikir dan merasa, menentukan pada situasi seperti apa saya akan terharu dan berbahagia atau sedih. Saya tidak memiliki diri saya sepenuhnya, saya dimanufaktur secara historik, kultural dan ekonomis, oleh kekuatan manapun dalam sejarah yang kebetulan mempunyai cukup kekuatan untuk mewujudkan kehendaknya. Kamar yang saya bayangkan itu tidak pernah ada.

Saya memasang poster film Spielberg Schlinder’s List di kamar saya untuk sekedar mengeratkan saya dengan impian saya mengenai kemanusiaan, sesuatu yang sedikit-banyak membantu saya untuk terus menjalani hidup. Tapi film itu dibuat di dunia Barat, Dunia Pertama, di mana modal kultural yang mereka miliki untuk menciptakan film yang indah itu sebagian tersedia karena penghisapan nilai lebih belahan dunia lain yang sekarang disebut Dunia Ketiga (di mana saya menjadi bagian di dalamnya), yang telah berlangsung ratusan tahun, sejak era penjelajahan, kemudian penjajahan yang memungkinkan adanya McDonnel Douglas, Microsoft Inc., McDonalds, dan tentu saja Universal Picture, 21st Century Fox, Miramax; untuk kemudian memungkinkan saya, pada tahun 1995, memandangi poster itu dengan rasa takzim tertentu.

Dan saya tidak mungkin mengungsi ke tubuh lain yang steril. Cant live with it. Cant live without it. Mengingat Hamm dalam Endgame-nya Samuel Beckett, saya berada di muka bumi dan tidak ada obat untuk itu.

000

Dalam ketidakmungkinan semacam itu saya bertemu dengan Rooms. Naskah sepanjang kurang lebih 300 adegan itu membawa saya pada sejumlah kamar, tempat di mana tubuh-tubuh tinggal, bersama perasaan masing-masing, yang saya bayangkan sebagian besar darinya telah bergumpal dan mampat dalam masyarakat, yang tentu saja, terdiri dari pribadi-pribadi. Seringkali, saya melihat diri saya sendiri di sana.

Ia memang tidak bicara tentang gagasan ‘besar’ seperti partisipasi politik, keadilan sosial dan yang semacamnya, tapi justru dengan itu, saya merasa bahwa inilah yang seharusnya ditampilkan, perjalanan pribadi-pribadi dalam mengelola rasa sakit dan kekecewaannya, di penghujung abad dan pergantian milenium. Sebab kamar dan pribadi-pribadi yang menghuninya telah lama lenyap dari dunia tontonan kita. Sementara pada saat yang sama saya selalu beranggapan bahwa pribadi-pribadi itu hampir selalu tinggal dalam tubuh-tubuh yang bersifat politis.

Tentu saja ada sinetron dan seterusnya yang memberitahu kita mengenai perilaku-perilaku keluarga dan pribadi-pribadi, tapi kita tidak menemukan apa yang mereka beritahukan itu dalam kehidupan nyata sehari-hari. Pribadi-pribadi yang seperti dicerabut dari akarnya, nyaris nir-konteks, dan terlebih lagi, apolitis. Tubuh-tubuh yang memuat pribadi-pribadi itu adalah tubuh-tubuh yang dicitrakan oleh industri komoditi, dan secara politis, lewat jalur kultural, ia adalah tubuh-tubuh yang mewakili kepentingan modal. Sebentuk model kepribadian dan kekeluargaan yang sesuai untuk pertumbuhan pasar dan ekspansi kapital.

Telah lebih dari sepuluh tahun kita tidak lagi punya ingatan kolektif mengenai wajah keluarga Indonesia, sejak Teguh Karya berhenti membuat film, dan kita kehilangan drama-drama realis yang menyentuh dan tidak terasa asing. Drama-drama yang memaparkan pada kita kenyataan sehari-hari kita dalam keluarga dan sebagai pribadi, yang pada gilirannya, setidaknya pada ruang paling personal yang kita tempati, sebentuk kemandirian politis masih bisa kita nikmati, tidak dalam pengertian politik formal elektoral, tapi lebih cara kita untuk menstrategikan “politik kebudayaan” kita sendiri.

Saya selalu beranggapan, pada era Orde Baru yang aroma feodalistiknya sedemikian kental, institusi utama dalam masyarakat yang mendukung penuh status quo adalah keluarga, sebuah institusi yang justru bukan institusi formal negara. Tapi justru di sanalah suprastruktur politik kita bertumpu dan bermuara. Keluarga adalah model dari bagaimana kehidupan politik bernegara kita dibangun. Maka bila sebuah revolusi pecah di Indonesia dan kita berharap ada yang baik akan muncul di sana, seharusnya hal itu tidak dimulai di Senayan, tapi dari tiap kamar anak-anak, di rumah masing-masing, terhadap otoritas kemapanan dan kepatutan yang diageni oleh para orang tua.

Dan Rooms, dengan tekanannya sendiri, adalah sebuah family saga, di mana pribadi demi pribadi dinyatakan dengan cara yang menyentuh dan subtil, untuk kemudian membentuk sebuah potret keluarga kelas menengah Jawa berlatar-belakang Katolik, mapan, bagian dari lingkaran pergaulan akademik yang eksklusif, yang kelak kita akan tahu, bahwa potret keluarga itu adalah bangunan rapuh tempat di mana seharusnya kita mulai membenahi hal-hal dalam kehidupan bersama kita. Rooms adalah rasa bersalah yang harus kita telan terlebih dulu sebelum kita bisa bicara dalam satuan yang lebih besar.

Demikianlah saya berharap, bahwa Rooms akan bertutur mengenai yang telah lama hilang itu. Ia memang tidak mengajukan sebuah gagasan canggih tentang masa depan, tapi ia berangkat dari satu titik yang tepat, bicara tentang apa yang ada dan bukannya tentang bagaimana seharusnya.

Saya berharap saya ada di sana, mendukung produksi tersebut, menyusunnya bata demi bata, karena setelah hikayat dan dongeng dan puisi tak banyak lagi terdengar, film adalah janji baru untuk berbagi secara kolektif, ingatan kita akan rasa sakit dan angan-angan kita akan kebahagiaan.

Saya ingin meyakinkan diri saya sendiri, kalau benar memang tidak ada obat untuk apapun, maka hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menuliskan sejelas-jelasnya, tiap hikayat dari tiap penyakit. Saya ingin berbagi, dan semoga itu menjadi lebih dari cukup.

2002

Ilustrasi : Draft poster karya Anom Birowo