Dirmawan Hatta
Saya selalu beranggapan bahwa sejumlah institusi formal masyarakat di mana saya tumbuh adalah institusi yang pengap, bebal, sekaligus ceriwis, terlalu banyak mengatur. Insitusi yang saya maksud terutama adalah institusi-institusi bikinan negara. Mereka mengatur bagaimana saya mesti berpikir dan merasa, serta sekaligus menciptakan hal-hal yang harus saya pikirkan dan rasakan. Tidak banyak ruang yang saya bisa kendalikan sendiri sepenuhnya.
Saya sering membayangkan sebuah kamar yang cuma saya yang tinggal di sana. Sebuah kamar di sebuah tempat yang tidak ada tulisan “Tamu Bermalam Harap Lapor Ketua RT” di ujung gangnya. Sebuah kota di sebuah negara yang orang boleh beragama atau tidak beragama, yang orang juga boleh untuk jadi hetero atau homoseksual sebagaimana kecenderungannya.
Belakangan, bayangan-bayangan itu menjadi kenyataan, meskipun jalan-jalan tidak berubah nama dan film Pengkhianatan G 30 S/PKI tidak lagi diputar serentak di televisi tiap tahun. Dari berita-berita di koran saya mendeteksi adanya kekuatan lain yang jauh lebih canggih yang mengatur bagaimana negara mengatur saya. Ijinkan saya menuduh bahwa kekuatan itu bernama kapital internasional.
Sekarang mereka ingin sumber-sumber daya alam diprivatisasi, termasuk sekolah dan rumah sakit. Mereka ingin pemerintah menghapuskan subsidi dan proteksi. Mereka ingin semua berada dalam mekanisme pasar bebas. Di mana semua diukur dalam jual-beli, yang saya pikir, baik-baik saja, seandainya orang punya kekuatan jual dan kekuatan beli yang sama, atau dengan kata lain, ada keadilan sosial dan ekonomi sebelumnya, yang saya juga tahu, itu tidak ada. Saya tahu, bahwa negara saya telah gagal meletakkan pondasi untuk mencapai hal-hal selama kurun waktu yang dimilikinya untuk menghidupi segenap warganya dalam mekanisme perekonomian kapitalistik yang dilindungi negara (state capitalism), sesuatu yang diamini oleh hampir semua negara-negara baru yang tercipta paska-Perang Dunia II, dan sesudahnya oleh negara-negara yang berada dalam Blok Barat selama era Perang Dingin, baik diakui atau tidak.
Saya tidak tahu apakah saya harus berbahagia atau tidak dengan menyusutnya kekuatan-kekuatan negara yang mengatur hidup saya yang saya sebut di atas. Saya mulai berpikir, bahwa ternyata saya tidak tumbuh di sebuah ruang hampa, saya tumbuh di tengah kait kelindan kepentingan yang menjalankan kekuasaannya dengan benang-benang amat halus, menentukan bagaimana saya harus berpikir dan merasa, menentukan pada situasi seperti apa saya akan terharu dan berbahagia atau sedih. Saya tidak memiliki diri saya sepenuhnya, saya dimanufaktur secara historik, kultural dan ekonomis, oleh kekuatan manapun dalam sejarah yang kebetulan mempunyai cukup kekuatan untuk mewujudkan kehendaknya. Kamar yang saya bayangkan itu tidak pernah ada.
Saya memasang poster film Spielberg Schlinder’s List di kamar saya untuk sekedar mengeratkan saya dengan impian saya mengenai kemanusiaan, sesuatu yang sedikit-banyak membantu saya untuk terus menjalani hidup. Tapi film itu dibuat di dunia Barat, Dunia Pertama, di mana modal kultural yang mereka miliki untuk menciptakan film yang indah itu sebagian tersedia karena penghisapan nilai lebih belahan dunia lain yang sekarang disebut Dunia Ketiga (di mana saya menjadi bagian di dalamnya), yang telah berlangsung ratusan tahun, sejak era penjelajahan, kemudian penjajahan yang memungkinkan adanya McDonnel Douglas, Microsoft Inc., McDonalds, dan tentu saja Universal Picture, 21st Century Fox, Miramax; untuk kemudian memungkinkan saya, pada tahun 1995, memandangi poster itu dengan rasa takzim tertentu.
Dan saya tidak mungkin mengungsi ke tubuh lain yang steril. Cant live with it. Cant live without it. Mengingat Hamm dalam Endgame-nya Samuel Beckett, saya berada di muka bumi dan tidak ada obat untuk itu.
000
Dalam ketidakmungkinan semacam itu saya bertemu dengan Rooms. Naskah sepanjang kurang lebih 300 adegan itu membawa saya pada sejumlah kamar, tempat di mana tubuh-tubuh tinggal, bersama perasaan masing-masing, yang saya bayangkan sebagian besar darinya telah bergumpal dan mampat dalam masyarakat, yang tentu saja, terdiri dari pribadi-pribadi. Seringkali, saya melihat diri saya sendiri di sana.
Ia memang tidak bicara tentang gagasan ‘besar’ seperti partisipasi politik, keadilan sosial dan yang semacamnya, tapi justru dengan itu, saya merasa bahwa inilah yang seharusnya ditampilkan, perjalanan pribadi-pribadi dalam mengelola rasa sakit dan kekecewaannya, di penghujung abad dan pergantian milenium. Sebab kamar dan pribadi-pribadi yang menghuninya telah lama lenyap dari dunia tontonan kita. Sementara pada saat yang sama saya selalu beranggapan bahwa pribadi-pribadi itu hampir selalu tinggal dalam tubuh-tubuh yang bersifat politis.
Tentu saja ada sinetron dan seterusnya yang memberitahu kita mengenai perilaku-perilaku keluarga dan pribadi-pribadi, tapi kita tidak menemukan apa yang mereka beritahukan itu dalam kehidupan nyata sehari-hari. Pribadi-pribadi yang seperti dicerabut dari akarnya, nyaris nir-konteks, dan terlebih lagi, apolitis. Tubuh-tubuh yang memuat pribadi-pribadi itu adalah tubuh-tubuh yang dicitrakan oleh industri komoditi, dan secara politis, lewat jalur kultural, ia adalah tubuh-tubuh yang mewakili kepentingan modal. Sebentuk model kepribadian dan kekeluargaan yang sesuai untuk pertumbuhan pasar dan ekspansi kapital.
Telah lebih dari sepuluh tahun kita tidak lagi punya ingatan kolektif mengenai wajah keluarga Indonesia, sejak Teguh Karya berhenti membuat film, dan kita kehilangan drama-drama realis yang menyentuh dan tidak terasa asing. Drama-drama yang memaparkan pada kita kenyataan sehari-hari kita dalam keluarga dan sebagai pribadi, yang pada gilirannya, setidaknya pada ruang paling personal yang kita tempati, sebentuk kemandirian politis masih bisa kita nikmati, tidak dalam pengertian politik formal elektoral, tapi lebih cara kita untuk menstrategikan “politik kebudayaan” kita sendiri.
Saya selalu beranggapan, pada era Orde Baru yang aroma feodalistiknya sedemikian kental, institusi utama dalam masyarakat yang mendukung penuh status quo adalah keluarga, sebuah institusi yang justru bukan institusi formal negara. Tapi justru di sanalah suprastruktur politik kita bertumpu dan bermuara. Keluarga adalah model dari bagaimana kehidupan politik bernegara kita dibangun. Maka bila sebuah revolusi pecah di Indonesia dan kita berharap ada yang baik akan muncul di sana, seharusnya hal itu tidak dimulai di Senayan, tapi dari tiap kamar anak-anak, di rumah masing-masing, terhadap otoritas kemapanan dan kepatutan yang diageni oleh para orang tua.
Dan Rooms, dengan tekanannya sendiri, adalah sebuah family saga, di mana pribadi demi pribadi dinyatakan dengan cara yang menyentuh dan subtil, untuk kemudian membentuk sebuah potret keluarga kelas menengah Jawa berlatar-belakang Katolik, mapan, bagian dari lingkaran pergaulan akademik yang eksklusif, yang kelak kita akan tahu, bahwa potret keluarga itu adalah bangunan rapuh tempat di mana seharusnya kita mulai membenahi hal-hal dalam kehidupan bersama kita. Rooms adalah rasa bersalah yang harus kita telan terlebih dulu sebelum kita bisa bicara dalam satuan yang lebih besar.
Demikianlah saya berharap, bahwa Rooms akan bertutur mengenai yang telah lama hilang itu. Ia memang tidak mengajukan sebuah gagasan canggih tentang masa depan, tapi ia berangkat dari satu titik yang tepat, bicara tentang apa yang ada dan bukannya tentang bagaimana seharusnya.
Saya berharap saya ada di sana, mendukung produksi tersebut, menyusunnya bata demi bata, karena setelah hikayat dan dongeng dan puisi tak banyak lagi terdengar, film adalah janji baru untuk berbagi secara kolektif, ingatan kita akan rasa sakit dan angan-angan kita akan kebahagiaan.
Saya ingin meyakinkan diri saya sendiri, kalau benar memang tidak ada obat untuk apapun, maka hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menuliskan sejelas-jelasnya, tiap hikayat dari tiap penyakit. Saya ingin berbagi, dan semoga itu menjadi lebih dari cukup.
2002
Ilustrasi : Draft poster karya Anom Birowo